Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A Hafidzahullah pada Rabu, 27 Rabiul Akhir 1448 H / 07 Oktober 2026 M.
Kajian Islam Tentang Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah merupakan salah satu ulama terkemuka di Arab Saudi dan dunia Islam. Beliau menyusun banyak karya ilmiah yang mencakup bidang aqidah, fikih, ushul fikih, tafsir, hingga bahasa Arab. Karya-karya beliau dikenal memiliki bahasa yang sangat mudah dipahami sehingga banyak dipelajari dan dirujuk oleh para penuntut ilmu di berbagai penjuru dunia.
Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan risalah ringkas yang memuat pokok-pokok rukun iman, mulai dari iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, hingga takdir yang baik maupun yang buruk, beserta buah manis dari keimanan-keimanan tersebut.
Pujian Syaikh Abdul Aziz bin Baz terhadap Kitab
Kitab ini mendapatkan kata pengantar dan pujian dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Setelah kitab ini dibacakan kepada beliau, Syaikh Bin Baz menyatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin telah menyusun uraian secara sangat baik dan memberikan faedah yang amat melimpah.
Syaikh Bin Baz rahimahullah menegaskan bahwa risalah ini telah merangkum seluruh perkara mendasar yang dibutuhkan oleh penuntut ilmu dan setiap muslim terkait rukun iman yang enam, disertai tambahan berbagai faedah ilmiah yang sangat berharga.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz mendoakan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan beliau, menambahkan ilmu, serta memberikan petunjuk. Beliau juga mendoakan agar kitab ini dan seluruh karya tulis Syaikh Al-Utsaimin mendatangkan manfaat luas bagi kaum muslimin. Selain itu, dipanjatkan pula doa agar kaum muslimin dijadikan golongan yang memberi dan memperoleh petunjuk, serta mendakwahkan agama Allah ‘Azza wa Jalla di atas ilmu (bashirah).
Istilah dan Nama-Nama Lain Ilmu Aqidah
Istilah aqidah bermakna keyakinan atau ikatan hati seseorang terhadap suatu keyakinan, baik yang benar maupun yang batil. Meski kata aqidah tidak ditemukan secara eksplisit di dalam ayat Al-Qur’an atau hadits, istilah ini telah dipakai luas oleh para ulama.
Ilmu aqidah memiliki beberapa sebutan lain di kalangan ulama salaf:
- Ushuluddin: Disebut pokok-pokok agama karena memuat pembahasan paling mendasar dalam Islam.
- Ilmu Tauhid: Penamaan ini diambil dari pembahasan paling agung di dalamnya, meskipun aqidah juga mencakup rukun iman lainnya, sikap terhadap para sahabat, ketaatan kepada penguasa kaum muslimin, dan masalah penting lain.
- As-Sunnah: Banyak ulama klasik menyusun kitab aqidah memakai judul As-Sunnah, seperti karya Ibnu Abi Ashim, Al-Khallal, Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad, As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, dan Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari.
- Asy-Syari’ah: Dipakai antara lain oleh Imam Al-Ajurri dalam kitabnya, Asy-Syari’ah.
Makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Keistimewaan Aqidahnya
Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang senantiasa mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, senantiasa berjamaah (berkumpul) di atas kebenaran, serta loyal di bawah kepemimpinan seorang muslim yang sah tanpa memberontak.
Keistimewaan utama aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah terletak pada sumber pengambilannya yang murni bersumber dari wahyu langit, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits shahih melalui perantara Malaikat Jibril kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tidak ada satu pun perkara aqidah yang ditetapkan melainkan berlandaskan dalil yang jelas. Hal ini berbeda dengan kelompok yang menyimpang, yang menyandarkan keyakinan pada buku-buku filsafat, akal semata, mimpi-mimpi, atau ucapan para tokoh mereka.
Aqidah Ahlus Sunnah Sama dan Selaras dengan Fitrah Manusia
Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa selaras dengan akal sehat dan fitrah manusia, berbeda dengan aqidah lain yang sulit dipahami serta bertentangan dengan fitrah yang lurus. Sejak zaman para sahabat hingga saat ini, para ulama salaf memiliki kesepakatan dalam aqidah. Jika merujuk pada kitab-kitab aqidah yang ditulis para ulama sejak abad-abad awal, pembahasannya selalu bermuara pada pokok-pokok yang sama meski para penulisnya hidup pada zaman dan tempat yang berbeda.
Keselarasan tersebut terjadi karena semuanya bersumber dari rujukan yang sama, yaitu Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pengambilan dari satu mata air yang sama niscaya menghasilkan air yang sama. Oleh karena itu, para ulama dari masa silam, masa kini, hingga hari kiamat tidak memiliki pertentangan dalam pokok-pokok aqidah.
Sifat Pertengahan dan Kemuliaan Ilmu Aqidah
Keistimewaan lain dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah sifatnya yang pertengahan (wasathiyah), tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri, tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula menggampangkan. Dalam bab takdir, Ahlus Sunnah berada di antara kelompok Jabariyah dan Qadariyah. Dalam bab ancaman pelaku dosa besar, mereka berada di antara kelompok Murji’ah serta Khawarij dan Mu’tazilah. Pada bab nama dan sifat Allah ‘Azza wa Jalla, Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah antara Mu’aththilah yang menafikan sifat serta Mumatsstsilah yang menyerupakan Allah dengan makhluk.
Ilmu aqidah merupakan disiplin ilmu yang paling penting dan mulia. Para ulama menyebutkan bahwa kemuliaan suatu ilmu ditentukan oleh kemuliaan pembahasannya (syaraful ‘ilmi bisyarafil ma’lum). Objek pembahasan ilmu aqidah adalah Allah ‘Azza wa Jalla, mencakup nama-nama, sifat-sifat, perbuatan, serta hak-hak-Nya. Mengingat tidak ada yang lebih agung dari Allah ‘Azza wa Jalla, mempelajari aqidah menjadi sebaik-baik pemanfaatan waktu dalam menuntut ilmu.
Penjelasan Mukadimah Penulis
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengawali kitabnya dengan pujian kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Rabb semesta alam. Makna “alam” adalah segala sesuatu selain Allah ‘Azza wa Jalla, mencakup alam malaikat, jin, hewan, dan makhluk lainnya. Dialah satu-satunya pencipta, pengatur, pemberi rezeki, yang menghidupkan, serta yang mematikan.
فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
“Bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud [11]: 49)
Orang yang bertakwa akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Seorang dai mungkin tidak melihat langsung hasil dakwahnya semasa hidup, namun ia pasti merasakan pahala jerih payahnya setelah wafat. Kesudahan yang baik bagi orang bertakwa pasti diperoleh di akhirat, diawali sejak alam barzakh saat mereka menyaksikan ganjaran yang disiapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Makna Dua Kalimah Syahadat dan Sifat-Sifat Allah
Penulis bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah ‘Azza wa Jalla semata, tiada sekutu bagi-Nya, serta Dialah Al-Malik (Raja yang Menguasai), Al-Haqq (Maha Benar), dan Al-Mubin (Maha Menjelaskan). Dialah Raja yang memiliki, menguasai, dan mengatur segala sesuatu. Pengkhususan penguasaan Allah pada hari pembalasan di dalam Surah Al-Fatihah, disebabkan di dunia banyak raja yang berkuasa bahkan mengaku sebagai tuhan. Pada hari kiamat kelak, tidak ada lagi yang mengaku sebagai tuhan, dan kekuasaan mutlak Allah ‘Azza wa Jalla akan tampak nyata ketika seluruh makhluk dimatikan setelah tiupan sangkakala pertama.
لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
“Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan.” (QS. Ghafir [40]: 16)
Allah adalah satu-satunya sesembahan yang benar, sedangkan segala sesuatu yang diseru dan disembah selain-Nya merupakan kebatilan. Dialah Al-Mubin yang menerangkan ayat-ayat dan petunjuk agama-Nya.
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ
“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia adalah batil.” (QS. Al-Hajj [22]: 62)
Kedudukan Nabi Muhammad dan Kewajiban Mengikuti Syariatnya
Penulis kemudian bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, sekaligus penutup para nabi (khatamun nabiyyin). Beliau adalah hamba Allah yang paling mulia sehingga tidak boleh disembah, sekaligus rasul yang tidak boleh didustakan. Tidak ada nabi sesudah beliau. Ketika Nabi Isa ‘Alaihis Salam turun di akhir zaman, beliau tidak membawa syariat baru atau kitab Injil, melainkan turun membunuh babi, menghapus jizyah, dan berhukum dengan syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Seluruh syariat terdahulu telah dihapus setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini ditegaskan saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat Umar bin Khattab memegang lembaran Taurat, lalu beliau menegur bahwa sekiranya Nabi Musa ‘Alaihissalam masih hidup, tidak ada pilihan baginya selain mengikuti syariat beliau.
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini yang mendengar tentangku, baik Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku bawa, melainkan dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah pemimpin orang-orang bertakwa (Imamul Muttaqin) dan penghulu para nabi dan rasul (Sayyidul Anbiya wal Mursalin). Buktinya, saat peristiwa Isra Mikraj, beliau mengimami shalat seluruh nabi terdahulu.
Keutamaan Sahabat dan Mengikuti Mereka dengan Baik
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik (ihsan). Penekanan “mengikuti dengan baik” menjadi syarat penting untuk meraih keridhaan Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah [9]: 100)
Tiga Generasi Terbaik dan Urgensi Menjaga Kemurnian Aqidah
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para sahabat adalah manusia terbaik yang hidup mendampingi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengikuti sunnah beliau, dan menyebarkan hadits-haditsnya. Generasi terbaik berikutnya adalah para tabi’in sebagai murid-murid sahabat, lalu generasi atba’ut tabi’in. Ketiga generasi inilah yang dipuji dan direkomendasikan langsung oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Keberhasilan dan kejayaan umat Islam hanya dapat diraih dengan kembali kepada sunnah mereka, meneladani jejak Khulafaur Rasyidin, para tabi’in, serta tabi’ut tabi’in. Aqidah yang mereka pegang bersifat murni, sama, dan tidak berubah dari masa ke masa. Menjaga aqidah ini sangat krusial karena aqidah merupakan fondasi agama; jika aqidah rusak atau goyah, seluruh keberagamaan seseorang akan runtuh.
Hakikat Petunjuk dan Agama yang Benar
Allah ‘Azza wa Jalla mengutus Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan membawa petunjuk (al-huda) dan agama yang benar (dinul haq). Para ulama menjelaskan bahwa al-huda bermakna ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an, sunnah, dan pemahaman para sahabat. Para sahabat merupakan generasi paling memahami agama ini karena menyaksikan langsung turunnya wahyu, mengetahui konteks serta sebab turunnya ayat, dan memahami praktik kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Adapun dinul haq bermakna amal saleh. Inti ajaran Islam terangkum dalam dua hal tersebut: ilmu yang bermanfaat dan amal yang benar. Prinsip ini senantiasa dimohonkan dalam setiap shalat melalui doa memohon jalan yang lurus—bukan jalan orang-orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya (al-maghdhub ‘alaihim), dan bukan pula jalan orang-orang yang beramal tanpa landasan ilmu (adh-dhallin). Oleh karena itu, umat Islam dituntut bersemangat mempelajari ilmu agama, terutama masalah aqidah yang bersumber shahih dari Al-Qur’an dan sunnah, sekaligus bersungguh-sungguh mengamalkannya.
Islam sebagai Rahmat bagi Seluruh Alam
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus sebagai rahmat bukan hanya bagi jin dan manusia, melainkan juga bagi seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk hewan. Ajaran Islam secara tegas memerintahkan untuk berbuat baik kepada hewan.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan adanya seorang wanita yang disiksa di neraka karena mengurung seekor kucing tanpa memberinya makan, minum, maupun kebebasan untuk mencari makan sendiri hingga kucing tersebut mati. Sebaliknya, seorang wanita diampuni dosanya dan dimasukkan ke dalam surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Termasuk dalam bentuk kasih sayang ini, syariat mengajarkan adab untuk menajamkan pisau ketika hendak menyembelih hewan agar prosesnya tidak menyiksa.
Keteladanan Sempurna dan Penegakan Hujah bagi Umat Manusia
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam untuk kebaikan segenap makhluk agar mereka berbahagia di dunia dan selamat di akhirat. Beliau menjadi teladan sempurna bagi manusia maupun jin, dua golongan yang dibebani syariat dan akan diuji pada hari kiamat. Kesempurnaan beliau mencakup aspek aqidah, muamalah, maupun ibadah.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)
Pernah ada tiga orang sahabat yang menganggap ibadah nabi masih kurang. Sehingga salah seorang dari mereka bertekad untuk terus shalat malam tanpa tidur, yang lain berniat puasa terus-menerus tanpa berbuka, dan yang lainnya berniat tidak akan menikah atau tidak memakan daging. Mendengar perkataan tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur sikap berlebihan itu dan menegaskan kedudukan sunnah beliau.
“Aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian. Namun aku shalat dan aku juga tidur, aku berpuasa dan aku juga berbuka, serta aku menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesempurnaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tampak dalam kehidupan rumah tangga, kepemimpinan, hubungan bertetangga, dan seluruh aspek kehidupan. Siapa pun yang ingin menjadi pribadi yang baik harus mencontoh dan mempelajari sunnah beliau.
Penjelasan Syariat secara Menyeluruh
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya agar hujah tegak dan manusia tidak lagi memiliki alasan bahwa mereka belum menerima petunjuk. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan seluruh isi Al-Qur’an dan hikmah yang diturunkan kepadanya. Tidak ada satu pun kebaikan yang mendekatkan ke surga melainkan telah beliau perintahkan, dan tidak ada keburukan yang mendekatkan ke neraka melainkan telah beliau peringatkan. Beliau wafat setelah menunaikan seluruh amanah dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Penjelasan beliau mencakup hak-hak Allah ‘Azza wa Jalla, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, kabar tentang malaikat, serta kisah para nabi terdahulu seperti Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Syuaib, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf, Nabi Musa, dan Nabi Isa ‘Alaihimussalam beserta akibat yang menimpa kaum pembangkang.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memerinci tata cara ibadah secara mendalam. Para sahabat meriwayatkan tata cara shalat beliau secara terperinci, begitu pula ketentuan zakat harta, zakat pertanian, pihak yang berhak menerimanya, hingga hukum-hukum seputar puasa.
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)
Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Mari turut membagikan link download kajian tentang “Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56600-kitab-aqidah-ahlus-sunnah-wal-jamaah-syaikh-muhammad-bin-shalih-al-utsaimin/